Friday, January 18, 2013

Estetika Dangdut Koplo “Go Public”



Estetika Dangdut Koplo “Go Public”
Michael Haryo Bagus Raditya
Abstrak
Dangdut Koplo atau yang sering disebut sebagai “Koplonan” merupakan sebuah kesenian rakyat yang bila ditilik lebih jauh merupakan sub dari musik dangdut itu sendiri. Dalam perkembangannya, masyarakat lokal menciptakan hal baru dalam perkembangan dangdut tersebut, khususnya di daerah Pantura dan Jawa Timur. Eksistensi Dangdut Koplo sebagai kesenian rakyat menjadi sangat kuat di daerahnya sendiri. Tetapi ketika Inul Daratista naik ke panggung televisi, semuanya telah berubah, kiblat dangdut ala Rhoma menjadi tergeser dan koplo seakan menjadi kiblat belakangan ini. Naiknya Koplo seakan menjadi lonjakan besar bagi masyarakat pelaku koplo. Demam koplo seakan menasionalisasi bangsa, tetapi yang menjadi persoalan, terdapat nilai estetika pada dangdut koplo, dan adanya dilema dangdut koplo sebagai hiburan bagi semua kaum masyarakat, menjadikan para penonton, apakah mereka benar-benar menyukainya atau hanya menjadi karbitan saja. Estetika suatu kesenian akan kuat kedalam, dan apakah pada dangdut Koplo, estetika beranjak keluar.

Kata Kunci: Dangdut Koplo, Koplonan, Estetika, Pantura, identitas masyarakat

Review “Introduction, The Aesthetics of Symbolic Construction and Experience”



Review “Introduction, The Aesthetics of Symbolic Construction and Experience” dari Bruce Kapferer and Angela Hobart dalam “Aesthetic In Performance, Formation of Symbolic Construction and Experience”, oleh Michael Haryo Bagus Raditya

            Dalam bab ini, penulis mengidikasikan bahwa pada bab ini akan difokuskan kepada permasalahan estetika sebagai konstruksi simbol dan pengalaman. Pada awal penulisan, penulis melayangkan sebuah hipotesa, dimana beliau mengatakan bahwa sebuah pertunjukan dipertimbangkan secara estetik, yang dimaksud disini adalah proses yang berlangsung sebagai bentuk seni itu sendiri terjadi sebelum refleksi bersamaan dengan permasalahan dinamik yang ada terkonstruksi dan secara paksa karena pengalaman. Pada dasarnya konsep yang digunakan pada sebuah hal yang bernama estetika merupakan terapan dari pembuatan simbol atau struktur dinamik berdasarkan pengalaman pelaku, artian dan nilai yang ada. Studi estetik telah terkonsentrai dari bentuk seni dan isu yang berkembang atas estetik itu sendiri. Dalam bukunya, lectures on fine art  karangan Hegel, beliau mengembangkan ide dari Kantian, dimana jenis dari estetika didasarkan pada kriteria objek dari nilai yang terbentuk, nilai tersebut berasal dari sejarah dan budaya hingga sekarang. Sebuah konsep tentang estetik terbentuk darimana tetmpat itu berada, yang mana akan muncul artian dari keindahan sebagai usaha untuk mencari kreasi estetik tersebut. Adapun perbedaan yang mendasar antara pemikiran Kant dan Hegel, untuk Kant, sama dengan Hegel, estetik tidak hanya melulu berkonsentrasi pada seni tersebut, tetapi hati dari kritikan yang mengerti tentang manusia yang bernaung disitu.

Thursday, October 18, 2012

Tradisi Gambang Kromong Masyarakat Betawi


Tradisi Gambang Kromong Masyarakat Betawi
Oleh: Sukotjo

Review oleh : Michael Haryo Bagus Raditya

Abstrak
Jakarta, dalam keberadaannya sebagai ibukota tidak dapat dipungkiri bila mengalami banyak gesekan kebudayaan, baik dari dalam negeri, seperti halnya kebudayaan daerah lain, juga dari luar negeri, seperti halnya westernisasi dan kebudayaan dari Negara lain. Adapun dampak yang menyebabkan kebudayaan Betawi sebagai empunya Jakarta semakin terkikis. Sehingga kebudayaan di Ibukota semakin dinamis dengan adanya dorongan eksternal tersebut, kebudayaan baru muncul, dan kebudayaan lama semakin tenggelam. Pada hal ini, Betawi memiliki Gambang Kromong sebagai salah satu kebudayaan Jakarta yang nasibnya mengambang. Pada dasarnya Gambang Kromong merupakan kebudayaan betawi yang dimiliki masyarakat pendatang (China). Menurut Sukotjo, Gambang Kromong digunakan pertama kali oleh orang China Benteng, dan dalam keberadaannya bernagsut-angsur menjadi milik betawi. Gambang Kromong merupakan perpaduan dari beberapa alat musik yang berasal dari India, Indonesia, China dan kini, barat. Jadi dapat disimpulkan bahwa Gambang Kromong merupakan gabungan kebudayaan dan menjadi kebudayaan baru yaitu Gambang Kromong Betawi. Seiring dengan perkembangan zaman dan eksistensi Gambang Kromong yang menjadi ikon musik Betawi dalam ranah pariwisata, membuat Gambang Kromong harus terus beradaptasi dengan jenis musik dan alat musik baru yang muncul, agar eksistensi Gambang Kromong kembali ke masa kejayaannya.

Kata Kunci: Gambang Kromong, Betawi, Etnisitas Pribumi, Transformasi Transisi

Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor Masyarakat Batak Toba


Review Disertasi, dari:

“Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor Masyarakat Batak Toba”,
oleh Mauly Purba

Pada dasarnya sebuah kelompok masyarakat mempunyai kebudayaan masing-masing, karena kebudayaan merupakan sebuah proses belajar dan penyesuaian yang ada, atas dasar nilai individu maupun kolektif. Sebuah kebudayaan di suatu tempat merupakan nilai-nilai dari proses belajar si manusia itu sendiri, sehingga perbedaan menjadi hal yang pasti karena, pemahaman, pengintepretasian dan penyesuaian manusia atau kelompok berbeda-beda, terlebih sifat manusia yang dinamis. Sehingga kebudayaan merupakan sebuah hasil jadi atas proses yang lama terjadi. Pada hal ini, masyarakat Batak Toba merupakan studi kasus dari permasalahan yang ada. Batak Toba sebagai kelompok masyarakat mempunyai sistem dan penyesuaian tersendiri sebagai nilai kebudayaan yang mereka miliki. Seperti halnya, adalah tradisi Gondang Sabangunan dan tari Tortor.
Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor merupakan musik dan tari seremonial masyarakat Batak Toba. Pada tulisan Mauly Purba ini, beliau mengungkap Gondang Sabangunan dan Tortor dengan membahas beberapa nilai secara holistic, dimana membaginya ke beberapa penjelasan yang lebih mendalam seperti instrument dan musisi, adat ni gondang, dan penyesuaian dari masyarakat Batak Toba itu sendiri. Pada dasarnya Gondang Sabangunan dan Tortor merupakan rangkaian upacara ritual yang menunjukan dedikasi mereka terhadap norma sosial dan agama. Adapun tiga jenis ensambel gondang, yaitu: ensambel Gondang Sabangunan, Gondang Hasapi, Gondang Bulu. Ketiga ensambel ini digunakan sebagai pengiring dari tarian seremonial, Tortor. Adapun perbedaan dari ketiga Gondang tersebut, dimana ensambel yang satu dengan yang lain memberikan warna berbeda dari setiap gondang. Seperti halnya Gondang Sabangunan yang terdiri dari lima buah taganing, satu odap, satu gondang, satu sarune, empat ogung dan satu hesek. Sedangkan Gondang hasapi terdiri dari dua hasapi, satu garantung, satu sarune etek, satu sulim dan satu hesek. Dan, Gondang Bulu sama dengan Gondang Sabangunan tetapi yang membedakan adalah taganing dan gong terbuat dari bambu, dan sarune etek yang digunakan adalah ensambel gondang hasapi.  

Tuesday, October 16, 2012

Sumber Daya Arkeologis Pada Kesenian Kuntulan


Sumber daya Arkeologis pada Kesenian Kuntulan
Michael Haryo Bagus Raditya

Abstrak
Kuntulan, merupakan sebuah kesenian rakyat yang memadukan nuansa islami, seperti halnya bacaan ayat dan musik, dan gerakan tarian pencak silat sebagai tarian dasar para penari. Dalam keberlangsungannya, Kesenin Kuntulan telah menjadi kesenian rakyat yang sangat vital bagi masyarakat. Selain untuk alat komunalistik masyarakat, kesenian Kuntulan juga sangat erat dengan Agama. Membahas “teks” dalam sebuah kesenian merupakan pekerjaan pokok dalam mengungkap seberapa penting peran kesenian tersebut, sehingga konteks menjadi nilai yang dapat menyempurnakan kesenian tersebut. Dalam hal ini, Kuntulan sebagai kesenian tari dan musik, yang memadukan pencak silat sebagai tarian, terbang dan ayat sebagai musik dari tarian. Menilik kembali sebuah kesenian dari akarnya akan membuat kesenian tersebut lebih bernilai, sehingga penghargaan pada masyarakat akan lebih tinggi. Pada hal ini Kuntulan akan dikaji dengan menggunakan teori semiotic, melihat peran kesenian sebagai “Teks” dan Fungsionalisme, untuk melihat seberapa besar peran kesenian Kuntulan bagi masyarakat.
Kata Kunci: Kuntulan, Arkeologis, Lokal Genius, Kesenian Rakyat, Etnomusikologi
­­­­­­­­­­­­­­­­­­

Indonesian Idol: Sebagai Kontes dan Pertunjukan


Indonesian Idol: Sebagai Kontes dan Pertunjukan

Indonesian Idol merupakan sebuah acara yang bertajuk kontes pencarian bakat dalam olah suara dengan format penyanyi solo. Dalam keberlansungannya Indonesia Idol telah menjadi nilai tersendiri bagi Indsutri Musik Indonesia, yaitu makin beragamnya warna dari para penyanyi dan mereka dipilih berdasarkan selera. Maka itu membongkar Konstruksi Selera merupakan sebuah hal yang penting untuk mengetahui Indonesia Idol sebagai pertunjukan. Karena selera tersebut membuat penubuhan dan pesona terhadap para penonton. Indonesian Idol menjadi sebuah kesenian juga tidak dapat dipelaskan pada konteks yang ada yaitu komoditisasi, dimana komoditisasi merupakan sebuah nilai pertukaran seni dengan konteks lainnya.
Keywords: Indonesian Idol, Habitus, Penubuhan, Pesona, Komoditisasi.

Dua Ikon Dangdut dari Masa yang berbeda: Studi Kasus Inul Daratista dan Ayu “Tingting”


Dua Ikon Dangdut dari Masa yang berbeda:
Studi Kasus Inul Daratista dan Ayu “Tingting”

A.   Pengantar
“Dung.. Dang..Dung..Dang..Dut.. Dang..Dung..Dang..Dut..”. Begitulah Irama Gendang yang beriringan dengan perkusi, alunan gitar dan bunyi Organ, dan Suara Penyanyi dibarengi dengan goyangan, membentuk sebuah harmonisasi suara yang ciamik. Penonton terpukau, bersorak, bahkan ikut bergoyang. Layaknya lupa daratan, bebas, seakan melupakan beban yang ada. Untuk saat itu mereka terbebas, menjadi satu dan terhanyut dalam alunan Musik Dangdut. Dangdut menjelma menjadi sebuah alunan musik yang bercita rasa dan mewakili segenap peluh kesah masyarakat. Dari ketukan yang dapat mengajak segala umat ikut bergoyang, goyangan khas Dangdut, dan syair lagu yang mewakili perasaan masyarakat Indonesia khususnya kaum yang tertindas dan terpinggirkan. Bahkan, kerap kali Dangdut dicap sebagai musik orang susah. Walaupun begitu, dangdut merupakan hiburan masyarakat Indonesia yang paling digemari. Dimanapun Dangdut ditanggap, penonton akan memadati panggung. Masyarakat seakan telah menempatkan hatinya pada musik Dangdut, karena Dangdut Musik Rakyat, rakyat Indonesia.