Saturday, March 15, 2014

Resensi Buku Sukarno Orang Kiri Revolusi dan G30S 1965 (Onghokham)



Pengarang                  :           Onghokham
Judul                          :           Soekarno
                                                Orang Kiri Revolusi dan G30S 1965
Tahun Terbit             :           2009
Kota Penerbit            :           Jakarta
Penerbit                      :           Komunitas Bambu
Keterangan                :           (xxi, 220, 13gb;14x21cm)
Oleh                            :           Michael HB Raditya

Tidak ada orang yang monolitis hanya berakar pada budaya atau hanya pada politik. Sukarno sendiri mungkin tidak akan dapat menjawabnya, sebab pribadi perseorangan, kecuali pemikiran rasional dan tipu muslihatnya, pasti dibentuk oleh tradisi budaya dan masyarakat.
_Onghokham_

Wednesday, January 8, 2014

THE ESSENCE OF SENGGAKAN IN DANGDUT KOPLO AS MUSICAL IDENTITES



 Michael HB Raditya
michael.raditya@gmail.com



Abstract


In its development, Dangdut has been evolving in line with the globalization era, the society preference and the cultural pattern. The current performance of Dangdut Koplo has many new elements. Its interesting element is called the Senggakan. In each musical performance showed by the Melayu orchestra, the Senggakan plays major function. The Senggakan provides beats and unique touch that make Dangdut Koplo distinct from Dangdut in terms of its musicality. The success of Dangdut Koplo is caused due to the existence of habitus society, i.e. the Senggakan and the Senggakan habitus owned by Javanese society. That habitus has the implication to the existing interaction. The participation on Senggakan bears the existence of Dangdut Koplo. After scrutinizing further, the Senggakan is functioned and equipped by the society as cultural and musical expression. Moreover, the Senggakan also circulates social and cultural essences for the society. The Senggakan becomes accordingly the musical and cultural identity of the society observing Dangdut Koplo.

ESENSI SENGGAKAN PADA DANGDUT KOPLO SEBAGAI IDENTITAS MUSIKAL



Michael Haryo Bagus Raditya
Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Dangdut dalam perkembangannya mengalami banyak perubahan seiring dengan kemajuan zaman, pola selera masyarakat dan budaya yang ada. Dalam keberlangsungannya pertunjukan dangdut Koplo mempunyai banyak unsur pertunjukan yang baru. Pada hal ini unsur menarik itu adalah Senggakan. Dalam permainannya Senggakan mempunyai fungsi yang kuat dalam setiap musikal yang dipertunjukan oleh orkes melayu. Senggakan-Senggakan ini dalam permainannya memberikan patahan-patahan serta ciri khas tersendiri yang membedakan antara dangdut dan dangdut Koplo dalam musikalitasnya. Dangdut Koplo dapat berhasil dengan sukses karena adanya habitus masyarakat. Dalam hal ini adalah Senggakan, dann habitus Senggakan dimiliki oleh masyarakat Jawa. Habitus tersebut berimplikasi kepada interkasi yang terjadi, partisipasi terhadap Senggakan menunjang eksistensi dari Dangdut Koplo. Setelah ditilik lebih dalam, ternyata Senggakan mempunyai fungsi dan guna pada masyarakat. Senggakan tidak hanya sebagai ekspresi kultural dan musikal tetapi mempunyai esensi dalam sosial dan kultural. Atas hal tersebutlah, mengapa Senggakan menjadi identitas musikal dan kultural dari masyarakat memandang Dangdut Koplo.

Kata kunci: Senggakan, Dangdut Koplo, Identitas,  Habitus, Esensi


ABSTRACT
In its development, dangdut has been evolving in line with the globalization era, the society preference and the cultural pattern. The current performance of dangdut Koplo has many new elements. Its interesting element is called the Senggakan. In each musical performance showed by the Melayu orchestra, the Senggakan plays major function. The Senggakan provides beats and unique touch that make dangdut Koplo distinct from dangdut in terms of its musicality. The success of dangdut Koplo is caused due to the existence of habitus society, i.e. the Senggakan and the Senggakan habitus owned by Javanese society. That habitus has the implication to the existing interaction. The participation on Senggakan bears the existence of Dangdut Koplo. After scrutinizing further, the Senggakan is functioned and equipped by the society as cultural and musical expression. Moreover, the Senggakan also circulates social and cultural essences for the society. The Senggakan becomes accordingly the musical and cultural identity of the society observing dangdut Koplo.

Keywords: Senggakan; Dangdut Koplo; identity; habitus; essence



Sunday, December 29, 2013

Lirih Tak Bertuan

Sore itu
di depan pasang mata
seorang wanita mulai memasuki panggungnya
berjalan perlahan ke tengah singgasana
dengan karpet hitam putih membentang
ia mulai melakukan gerakan yang repetitif
berlenggak lenggok kiri dan kanan
sesekali mengibaskan selendang
dan menatap datar nan tegang ke penonton

ditemani hujan
walau hanya gerimis
bercampur haru, malu, marah dan lapar
dan tak bergeming walau tawa, celoteh, makian, dan cercaan
terlontar dari mulut-mulut para lidah tak bertulang

beberapa saat kemudian,
wanita tersebut berjalan ke sisi panggung,

mengambil sebuah kotak kecil
dan berjalan ke arah penonton
memohon tanpa memaksa
 beberapa orang acuh
pura-pura tak melihat
bahkan pura-pura berbicara dengan pasangannya
senyum, ya hanya senyum terlontar dari wanita itu
sembari menemani kepergiannya

Thursday, February 7, 2013

Srawung Seni Segara Gunung



Srawung Seni Segara Gunung
Srawung Seni dan Ketuhanan: Pembahasan hingga Esensi
Candi Borobudur, 27 April 2012
Michael Haryo Bagus Raditya

            Srawung Seni Segara Gunung merupakan rangkaian acara kesenian yang mengangkat tema Srawung Seni sebagai fokus utama dalam pembahasan kesenian, dimana Srawung Seni akan dikontekskan dalam berbagai tema, seperti Arkeologi, Mitos dan Ketuhanan. Rangkaian acara ini dilaksanakan dari tanggal 20 April hingga 29 April 2012, tetapi dibagi kedalam dua bentuk kegiatan, dimana pada tanggal 20-24 April diadakan Latihan, Penelitian dan Retreat, sedangkan tanggal 25-29 April diadakan diskusi dan pertunjukan dari berbagai seniman, baik domestik maupun mancanegara. Srawung Gunung memang sangat mengundang perhatian para seniman dan pemerhati seni, karena menyangkut Srawung sebagai kesenian yang dipadukan dengan nilai-nilai penting lainnya. Yang dapat dipikirkan adalah, bagaimana posisi Seni dalam nilai-nilai yang sakral tersebut, dan apakah para pembicara dapat merepresentasikan dan mempunyai jalan tengah dari hal tersebut tanpa harus menghancurkan nilai yang satu dengan yang lain.
            Pada kesempatan kali ini, saya beserta teman-teman dari Pasca Seni Pertunjukan UGM dengan ditemani dan dibimbing oleh Mas Lono Lastoro Simatupang, dapat menyaksikan secara langsung  diskusi dan pertunjukan acara Srawung Seni tersebut. Tema Srawung Seni pada saat itu adalah Srawung Seni dan Ketuhanan. Ketuhanan sebagai sebuah konsep telah terkonstruksi dalam pemikiran kita semua, dimana Tuhan sebagai suatu yang “Esa”, “sakral”, “suci”, “adilihung”, dan pembahasan ini ingin menguak bagaimana pengaruh seni dan ketuhanan. Apakah Seni mengatur nilai ketuhanan atau ketuhanan mengatur seni. Diskusi ini dibagi kedalam dua sesi, sesi pertama diampuh oleh tiga pembicara yang berkecimpung dalam seni secara akademis, dan pada sesi kedua diampuh oleh empat pembicara yang berkecimpung dalam seni lebih secara praktik. Setelah diskusi usai, para penonton akan dimanjakan dengan pertunjukan seni dari berbagai daerah.

Friday, January 18, 2013

Hegemoni Dangdut Koplo Pada Masyarakat



Hegemoni Dangdut Koplo Pada Masyarakat
Michael Haryo Bagus Raditya

Abstrak
Dangdut Koplo, merupakan sebuah fenomena baru di dunia permusikan tanah air pada tahun 2012 kemarin. Sebenarnya kemunculan Dangdut Koplo itu sendiri sudah berkembang lama sekali di daerah. Pelacakan telah dilakukan, dan ternyata Dangdut Koplo merupakan sebuah musik yang merupakan hasil intepretasi masyarakat terhadap sebuah aliran musik bernama, Dangdut. Dangdut Koplo merupakan sebuah terusan dari Dangdut, karena posisinya yang berasal dari perkembangan Dangdut, tetapi menciptakan sebuah hal yang baru dalam jenis musik tersebut. Koplo dalam organologi dapat dikatakan sama saja dengan Dangdut biasanya, yang membedakan adalah cara pemainan dan bunyi yang dikeluarkan dari organologi tersebut. Dalam keberlangsungannya, Dangdut Koplo telah terjamin patronasenya, bagaimana tidak, Koplo yang sangat berkembang pesat di Jawa Timur dan daerah Pantura merupakan agenda rutin masyarakat dalam meryakan upacara siklus hidup atau apapun. Koplo sangat mempunyai kekuatan dalam keberlangsungannya terhadap masyarakat. Melihat posisi Koplo yang sangat kuat, maka pada tulisan ini, penulis mencoba untuk melihat pemaknaan-pemaknaan yang terjadi.

Kata Kunci: Dangdut Koplo, Pemaknaan, Tanda, Relasi Kuasa, Hegemoni

Estetika Dangdut Koplo “Go Public”



Estetika Dangdut Koplo “Go Public”
Michael Haryo Bagus Raditya
Abstrak
Dangdut Koplo atau yang sering disebut sebagai “Koplonan” merupakan sebuah kesenian rakyat yang bila ditilik lebih jauh merupakan sub dari musik dangdut itu sendiri. Dalam perkembangannya, masyarakat lokal menciptakan hal baru dalam perkembangan dangdut tersebut, khususnya di daerah Pantura dan Jawa Timur. Eksistensi Dangdut Koplo sebagai kesenian rakyat menjadi sangat kuat di daerahnya sendiri. Tetapi ketika Inul Daratista naik ke panggung televisi, semuanya telah berubah, kiblat dangdut ala Rhoma menjadi tergeser dan koplo seakan menjadi kiblat belakangan ini. Naiknya Koplo seakan menjadi lonjakan besar bagi masyarakat pelaku koplo. Demam koplo seakan menasionalisasi bangsa, tetapi yang menjadi persoalan, terdapat nilai estetika pada dangdut koplo, dan adanya dilema dangdut koplo sebagai hiburan bagi semua kaum masyarakat, menjadikan para penonton, apakah mereka benar-benar menyukainya atau hanya menjadi karbitan saja. Estetika suatu kesenian akan kuat kedalam, dan apakah pada dangdut Koplo, estetika beranjak keluar.

Kata Kunci: Dangdut Koplo, Koplonan, Estetika, Pantura, identitas masyarakat

Review “Introduction, The Aesthetics of Symbolic Construction and Experience”



Review “Introduction, The Aesthetics of Symbolic Construction and Experience” dari Bruce Kapferer and Angela Hobart dalam “Aesthetic In Performance, Formation of Symbolic Construction and Experience”, oleh Michael Haryo Bagus Raditya

            Dalam bab ini, penulis mengidikasikan bahwa pada bab ini akan difokuskan kepada permasalahan estetika sebagai konstruksi simbol dan pengalaman. Pada awal penulisan, penulis melayangkan sebuah hipotesa, dimana beliau mengatakan bahwa sebuah pertunjukan dipertimbangkan secara estetik, yang dimaksud disini adalah proses yang berlangsung sebagai bentuk seni itu sendiri terjadi sebelum refleksi bersamaan dengan permasalahan dinamik yang ada terkonstruksi dan secara paksa karena pengalaman. Pada dasarnya konsep yang digunakan pada sebuah hal yang bernama estetika merupakan terapan dari pembuatan simbol atau struktur dinamik berdasarkan pengalaman pelaku, artian dan nilai yang ada. Studi estetik telah terkonsentrai dari bentuk seni dan isu yang berkembang atas estetik itu sendiri. Dalam bukunya, lectures on fine art  karangan Hegel, beliau mengembangkan ide dari Kantian, dimana jenis dari estetika didasarkan pada kriteria objek dari nilai yang terbentuk, nilai tersebut berasal dari sejarah dan budaya hingga sekarang. Sebuah konsep tentang estetik terbentuk darimana tetmpat itu berada, yang mana akan muncul artian dari keindahan sebagai usaha untuk mencari kreasi estetik tersebut. Adapun perbedaan yang mendasar antara pemikiran Kant dan Hegel, untuk Kant, sama dengan Hegel, estetik tidak hanya melulu berkonsentrasi pada seni tersebut, tetapi hati dari kritikan yang mengerti tentang manusia yang bernaung disitu.

Thursday, October 18, 2012

Tradisi Gambang Kromong Masyarakat Betawi


Tradisi Gambang Kromong Masyarakat Betawi
Oleh: Sukotjo

Review oleh : Michael Haryo Bagus Raditya

Abstrak
Jakarta, dalam keberadaannya sebagai ibukota tidak dapat dipungkiri bila mengalami banyak gesekan kebudayaan, baik dari dalam negeri, seperti halnya kebudayaan daerah lain, juga dari luar negeri, seperti halnya westernisasi dan kebudayaan dari Negara lain. Adapun dampak yang menyebabkan kebudayaan Betawi sebagai empunya Jakarta semakin terkikis. Sehingga kebudayaan di Ibukota semakin dinamis dengan adanya dorongan eksternal tersebut, kebudayaan baru muncul, dan kebudayaan lama semakin tenggelam. Pada hal ini, Betawi memiliki Gambang Kromong sebagai salah satu kebudayaan Jakarta yang nasibnya mengambang. Pada dasarnya Gambang Kromong merupakan kebudayaan betawi yang dimiliki masyarakat pendatang (China). Menurut Sukotjo, Gambang Kromong digunakan pertama kali oleh orang China Benteng, dan dalam keberadaannya bernagsut-angsur menjadi milik betawi. Gambang Kromong merupakan perpaduan dari beberapa alat musik yang berasal dari India, Indonesia, China dan kini, barat. Jadi dapat disimpulkan bahwa Gambang Kromong merupakan gabungan kebudayaan dan menjadi kebudayaan baru yaitu Gambang Kromong Betawi. Seiring dengan perkembangan zaman dan eksistensi Gambang Kromong yang menjadi ikon musik Betawi dalam ranah pariwisata, membuat Gambang Kromong harus terus beradaptasi dengan jenis musik dan alat musik baru yang muncul, agar eksistensi Gambang Kromong kembali ke masa kejayaannya.

Kata Kunci: Gambang Kromong, Betawi, Etnisitas Pribumi, Transformasi Transisi

Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor Masyarakat Batak Toba


Review Disertasi, dari:

“Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor Masyarakat Batak Toba”,
oleh Mauly Purba

Pada dasarnya sebuah kelompok masyarakat mempunyai kebudayaan masing-masing, karena kebudayaan merupakan sebuah proses belajar dan penyesuaian yang ada, atas dasar nilai individu maupun kolektif. Sebuah kebudayaan di suatu tempat merupakan nilai-nilai dari proses belajar si manusia itu sendiri, sehingga perbedaan menjadi hal yang pasti karena, pemahaman, pengintepretasian dan penyesuaian manusia atau kelompok berbeda-beda, terlebih sifat manusia yang dinamis. Sehingga kebudayaan merupakan sebuah hasil jadi atas proses yang lama terjadi. Pada hal ini, masyarakat Batak Toba merupakan studi kasus dari permasalahan yang ada. Batak Toba sebagai kelompok masyarakat mempunyai sistem dan penyesuaian tersendiri sebagai nilai kebudayaan yang mereka miliki. Seperti halnya, adalah tradisi Gondang Sabangunan dan tari Tortor.
Tradisi Gondang Sabangunan dan Tortor merupakan musik dan tari seremonial masyarakat Batak Toba. Pada tulisan Mauly Purba ini, beliau mengungkap Gondang Sabangunan dan Tortor dengan membahas beberapa nilai secara holistic, dimana membaginya ke beberapa penjelasan yang lebih mendalam seperti instrument dan musisi, adat ni gondang, dan penyesuaian dari masyarakat Batak Toba itu sendiri. Pada dasarnya Gondang Sabangunan dan Tortor merupakan rangkaian upacara ritual yang menunjukan dedikasi mereka terhadap norma sosial dan agama. Adapun tiga jenis ensambel gondang, yaitu: ensambel Gondang Sabangunan, Gondang Hasapi, Gondang Bulu. Ketiga ensambel ini digunakan sebagai pengiring dari tarian seremonial, Tortor. Adapun perbedaan dari ketiga Gondang tersebut, dimana ensambel yang satu dengan yang lain memberikan warna berbeda dari setiap gondang. Seperti halnya Gondang Sabangunan yang terdiri dari lima buah taganing, satu odap, satu gondang, satu sarune, empat ogung dan satu hesek. Sedangkan Gondang hasapi terdiri dari dua hasapi, satu garantung, satu sarune etek, satu sulim dan satu hesek. Dan, Gondang Bulu sama dengan Gondang Sabangunan tetapi yang membedakan adalah taganing dan gong terbuat dari bambu, dan sarune etek yang digunakan adalah ensambel gondang hasapi.  

Tuesday, October 16, 2012

Sumber Daya Arkeologis Pada Kesenian Kuntulan


Sumber daya Arkeologis pada Kesenian Kuntulan
Michael Haryo Bagus Raditya

Abstrak
Kuntulan, merupakan sebuah kesenian rakyat yang memadukan nuansa islami, seperti halnya bacaan ayat dan musik, dan gerakan tarian pencak silat sebagai tarian dasar para penari. Dalam keberlangsungannya, Kesenin Kuntulan telah menjadi kesenian rakyat yang sangat vital bagi masyarakat. Selain untuk alat komunalistik masyarakat, kesenian Kuntulan juga sangat erat dengan Agama. Membahas “teks” dalam sebuah kesenian merupakan pekerjaan pokok dalam mengungkap seberapa penting peran kesenian tersebut, sehingga konteks menjadi nilai yang dapat menyempurnakan kesenian tersebut. Dalam hal ini, Kuntulan sebagai kesenian tari dan musik, yang memadukan pencak silat sebagai tarian, terbang dan ayat sebagai musik dari tarian. Menilik kembali sebuah kesenian dari akarnya akan membuat kesenian tersebut lebih bernilai, sehingga penghargaan pada masyarakat akan lebih tinggi. Pada hal ini Kuntulan akan dikaji dengan menggunakan teori semiotic, melihat peran kesenian sebagai “Teks” dan Fungsionalisme, untuk melihat seberapa besar peran kesenian Kuntulan bagi masyarakat.
Kata Kunci: Kuntulan, Arkeologis, Lokal Genius, Kesenian Rakyat, Etnomusikologi
­­­­­­­­­­­­­­­­­­

Indonesian Idol: Sebagai Kontes dan Pertunjukan


Indonesian Idol: Sebagai Kontes dan Pertunjukan

Indonesian Idol merupakan sebuah acara yang bertajuk kontes pencarian bakat dalam olah suara dengan format penyanyi solo. Dalam keberlansungannya Indonesia Idol telah menjadi nilai tersendiri bagi Indsutri Musik Indonesia, yaitu makin beragamnya warna dari para penyanyi dan mereka dipilih berdasarkan selera. Maka itu membongkar Konstruksi Selera merupakan sebuah hal yang penting untuk mengetahui Indonesia Idol sebagai pertunjukan. Karena selera tersebut membuat penubuhan dan pesona terhadap para penonton. Indonesian Idol menjadi sebuah kesenian juga tidak dapat dipelaskan pada konteks yang ada yaitu komoditisasi, dimana komoditisasi merupakan sebuah nilai pertukaran seni dengan konteks lainnya.
Keywords: Indonesian Idol, Habitus, Penubuhan, Pesona, Komoditisasi.

Dua Ikon Dangdut dari Masa yang berbeda: Studi Kasus Inul Daratista dan Ayu “Tingting”


Dua Ikon Dangdut dari Masa yang berbeda:
Studi Kasus Inul Daratista dan Ayu “Tingting”

A.   Pengantar
“Dung.. Dang..Dung..Dang..Dut.. Dang..Dung..Dang..Dut..”. Begitulah Irama Gendang yang beriringan dengan perkusi, alunan gitar dan bunyi Organ, dan Suara Penyanyi dibarengi dengan goyangan, membentuk sebuah harmonisasi suara yang ciamik. Penonton terpukau, bersorak, bahkan ikut bergoyang. Layaknya lupa daratan, bebas, seakan melupakan beban yang ada. Untuk saat itu mereka terbebas, menjadi satu dan terhanyut dalam alunan Musik Dangdut. Dangdut menjelma menjadi sebuah alunan musik yang bercita rasa dan mewakili segenap peluh kesah masyarakat. Dari ketukan yang dapat mengajak segala umat ikut bergoyang, goyangan khas Dangdut, dan syair lagu yang mewakili perasaan masyarakat Indonesia khususnya kaum yang tertindas dan terpinggirkan. Bahkan, kerap kali Dangdut dicap sebagai musik orang susah. Walaupun begitu, dangdut merupakan hiburan masyarakat Indonesia yang paling digemari. Dimanapun Dangdut ditanggap, penonton akan memadati panggung. Masyarakat seakan telah menempatkan hatinya pada musik Dangdut, karena Dangdut Musik Rakyat, rakyat Indonesia.

Musik China: Keberadaan dan Perkembangan Musik Etnik Sebagai Identitas Budaya


Judul Makalah:
“Musik China: Keberadaan dan Perkembangan Musik Etnik sebagai Identitas Budaya”

A.    Latar Belakang
“Belajarlah hingga ke Negeri China”, sebuah peryataan dari Ir. Soekarno dalam rangka memotivasi anak bangsa untuk mencontoh kegigihan dari bangsa China dalam berjuang dan belajar. Ya, siapa yang tidak mengetahui Bangsa China, China sebagai bangsa merupakan bangsa yang mempunyai etos kerja yang baik, sehingga menjadikan Negeri Tirai Bambu tersebut menjadi Negara yang maju dan menjadi percontohan. Tidak hanya pada kemajuan, China mempunyai pengaruh yang kuat pada kebudayaannya. China dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa, memiliki cerita yang panjang, dalam Buku History of China karangan Wolfram Eberhad, China’s history began either about 4.000 B.C or about 2.700 B.C. with a succession of wise emperors (1950:4). Dari langkah munculnya bangsa China, Sinanthrious Pekinensis merupakan ras para manusia China, dan pada 2.205 B.C. Xia Dinasti muncul sebagai dinasti China pertama, lalu dilanjutkan pada  247 B.C. Shang Dinasti muncul, dan dinasti lain pun muncul. Hal tersebutlah yang menjadi cikal bakal kebudayaan China. Kebudayaan China terus berkembang hingga saatnya partai Komunis milik Mao Zedong memipin serta merubah China menjadi Negara Adi Kuasa Asia, dan menjadi China sekarang. Tetapi walaupun China berkembang sangat pesat, mereka tetap mempertahankan nilai Kebudayaan dan selalu menjunjung tinggi. Hal tersebutlah yang membuat kebudayaan China terus terjaga.

Struktur dan Fungsi Musik Prajurit Keraton Kesultanan Yogyakarta

Tema: Review Tesis

Judul Tesis :
Struktur dan Fungsi Musik Prajurit Keraton Kesultanan Yogyakarta
Pengarang  : Budi Raharja (1999)
­­­
          Tulisan Budi Raharja yang berjudul “Struktur dan Fungsi Musik Prajurit Keraton Kesultanan Yogyakarta merupakan  sebuah penelitian dengan hasil yang jeli. Hal tersebut dikarenakan, penelitian Musik Prajurit ini tidak semata-mata meneliti tentang musiknya saja, tetapi penulis berusaha menguak musik prajurit dari konteks kehidupan sosial dan budaya masyarakat, serta sejarah panjang yang mewarnai musik prajurit dari masa ke masa. Dalam keberlangsungannya, Musik Prajurit Keraton Kesultanan Yogyakarta berangkat dari sebuah budaya masyarakat yang berkembang pada saat itu, baik disengaja ataupun sebaliknya. Adanya stimulan tertentu sebagai penyebab munculnya Musik Prajurit sebagai sebuah karya yang hingga kini dipertahankan.

Potret Pendidikan Nek Sawak


Tema : Pendidikan
MHBR
Potret Pendidikan Nek Sawak

Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal utama dalam sebuah kehidupan, dimana pendidikan akan sangat berperan dalam kehidupan manusia. Pendidikan itu sendiri merupakan penanaman pengetahuan, keterampilan dan sikap pada masing-masing generasi dengan menggunakan pranata-pranata, seperti sekolah- sekolah yang sengaja diciptakan untuk tujuan tersebut (Imran Manan, 1989:9). Sekolah sebagai fasilitas untuk mendapatkan pendidikan harus dapat didistribusikan ke setiap masyarakat. Setiap manusia pun pada dasarnya berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama, pendidikan diperuntukan untuk segenap lapisan masyarakat. Hal tersebut lah yang mendorong pendidikan harus ditegakan, pendidikan sebagai fasilitas dan setiap manusia mempunyai hak andil yang sama dalam pendidikan. Hak dalam pendidikan pun termasuk dalam nilai-nilai UUD 1945 serta amandemennya. Indonesia mempunyai dasar negara yaitu UUD 1945 tersebut, maka itu hak dalam pendidikan seharunya telah merata di segala penjuru Indonesia.

Tinjauan Kebudayaan

Tema: Kebudayaan

Tinjauan Kebudayaan

Manusia dalam proses kehidupannya, telah mengalami banyak perkembangan dan perubahan dari masa ke masa. Hal tersebut dikarenakan adanya proses dari penyesuaian yang dilakukan manusia. Manusia pada hakekatnya membutuhkan makan, adaptasi, berkembang biak, reproduksi dan beberapa naluri manusia lainnya. Manusia dalam memenuhi kebutuhannya telah melakukan banyak adaptasi yang secara tidak sadar sebagai wujud dari perkembangan, tetapi tidak jarang perkembangan yang ada bersifat perubahan. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor dari dalam dan dari luar. Faktor dari dalam, ada pada manusia si empunya kehidupan, sedangkan faktor luar seperti halnya iklim, alam, dan segala faktor di luar manusia. Faktor-faktor tersebut membutuhkan sebuah proses agar manusia tersebut dapat bertahan dan berkembang. Tidak jarang proses tersebut memakan retan waktu yang cukup lama. Proses tersebut merupakan usaha dari manusia dalam mengembangkan dirinya, dan sesuai dengan insting manusia untuk bertahan hidup. Secara tidak sadar manusia melakukan proses belajar, dimana nilai yang salah ditinggalkan dan nilai yang benar digunakan, adanya proses dalam salah dan benar adalah wujud dari belajar.

Monday, November 28, 2011

Ronggeng Sebagai Media Ritual dan Hiburan Masyarakat


Tema: Kesenian
Tanggal: 26 November 2011

Ronggeng sebagai Media Ritual dan Hiburan

Pengantar
Setelah panen selesai, Desa-desa di Pulau Jawa biasanya melaksanakan sebuah pesta rakyat sebagai ucapan Syukur. Dalam Buku Kebudayaan Jawa menyatakan bahwa, bulan-bulan setelah akhir panen merupakan waktu bersuka ria. Dalam saat seperti itulah para dalang para penari sibuk melayani permintaan untuk mengadakan pertunjukan di berbagai perayaan dusun (Koentjaraningrat, 1994: 211-212). Waktu bersuka ria dalam rangka pesta panen, biasanya digunakan oleh beberapa Desa bahkan Dusun untuk memanggil kesenian-kesenian rakyat. Bagi mereka yang berada di pesisir pantai, masyarakat akan memanggil Doger, sedangkan di daerah-daerah pegunungan, masyarakat akan memanggil Ronggeng (Heriyawati, 2004:1-3). Kesenian-kesenian rakyat seperti Ronggeng telah mengakar di Pulau Jawa.